Ahok-Djarot Main Kampanye Kucing-Kucingan

0
188

Kasus dugaan penistaan agama oleh Basuki Tjahaja Purnama ternyata berimbas dengan kampanye calon petahana itu. Ahok dievakuasi saat blusukan di Jalan Ayub, Sukabumi Utara, Jakarta Barat. Dia diamankan karena terjadi aksi demontrasi oleh puluhan orang mengaku warga sekitar.

Ahok awalnya akan menyapa warga sekaligus melihat normalisasi kali sekretaris. Namun ternyata aksi demo yang terjadi semakin ramai sehingga diperlukan evakuasi.

“Kita harus evakuasi,” kata salah seorang petugas polisi sambil membuka jalan untuk Ahok, Rabu (2/11).

Seketika ajudan dan tim sukses menuju jalan keluar, kemudian mereka menyetop angkot nomor 24 menuju Polsek Kebon Jeruk. Para penumpang diturunkan. Polisi berpakaian sipil membawa gas air mata turut mengikuti mantan bupati Belitung Timur itu.

Tak hanya menimpa Ahok, calon wakil gubernur DKI pasangannya Djarot Saiful Hidayat juga mengalami hal serupa. Warga Jalan Kalibaru Timur IV E RT10/01, Kelurahan Kalibaru, Kecamatan Cilincing, Jakarta Utara, menolak kehadiran Djarot ke kampung mereka.

Anwar Kartawinata (62), Ketua Forum RT/RW Kelurahan Kalibaru mengatakan, penolakan terhadap Ahok dan Djarot sudah disuarakan warga setempat jauh sebelum kasus dugaan penistaan agama terjadi.

“Yang kami tolak adalah pemimpin yang arogan, pemimpin yang tidak merakyat, yang main gusur, tidak mau mendengarkan aspirasi masyarakat, itulah yang kami tidak inginkan. Dari sebelum ada penistaan agama kami sudah menolak,” bebernya.

Atas hal itu agenda kampanye Ahok dan Djarot pun tak disebar. Keduanya kampanye secara kucing-kucingan langsung menuju lokasi. Hal itu tentu berbeda sebelum ada insiden penolakan. Biasanya agenda kampanye Ahok-Djarot diterima media sejak malam sebelum kampanye. Kini wartawan yang mau meliput kampanye Ahok-Djarot tak diberitahu lebih dahulu kemana agenda kampanye.

Namun Ahok mengatakan, metode kampanyenya ini sebenarnya sudah lama diterapkan saat Pilkada 2012 bersama dengan Joko Widodo. Sebab dia tidak ingin mengikuti instruksi partai ke mana tujuan blusukannya sehari-hari.

“Karena kata Pak Jokowi waktu kami tahun 2012, kalau saya datang ikuti arahan partai bisa saja partai mengarahkan ke tempat-tempat yang nggak ada masalah. Yang sudah banyak yang milih yang merupakan konstituennya, saya nggak mau,” katanya.

Mantan Bupati Belitung Timur ini mengungkapkan, kini partai politik hanya diminta untuk menyodorkan titik-titik mana yang kemungkinan akan dikunjungi. Namun keputusan berangkat ke mana dia akan pergi sepenuhnya berada di bawah keputusannya.

“Suka-suka saya jalan mau ke mana. Kayak tadi mau kiri ke kanan. Mau kanan? Enggak aku mau ke kiri. Itu pelajaran dari Pak Jokowi waktu 2012,” ucapnya.

Sementara itu, Djarot membantah menyembunyikan agenda kampanyenya disembunyikan. “Enggak (sembunyikan),” singkatnya.

Menurut Djarot, semua agenda kampanye diserahkannya kepada tim kampanye. Djarot justru menyarankan tim kampanye untuk melapor kepada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), bila ada penolakan.

“Seharusnya tim kampanye melaporkan itu (penolakan) ke Bawaslu. Itu kan ada di undang-undang. Kalau misalkan ada yang menolak itu seharusnya nanti pas pemilu,” ujarnya.

Djarot kembali menegaskan sama sekali tak menyembunyikan agenda kampanye kepada media. “Jadi kita ini semua yang atur tim kampanye, kita tidak merahasiakannya,” pungkasnya.

Berikan Komentarmu