Partai PDIP Minta Kader Pembelotnya Mundur Sebelum Dipecat

0
334

PDI Perjuangan tidak terlalu risau dengan adanya beberapa anggotanya yang membelot dan berbeda sikap dengan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dalam Pilkada DKI Jakarta. Sebab ada loyalis partai yang tidak sudi mendukung Ahok- Djarot dan memutuskan keluar dari partai untuk memberikan dukungan kepada pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta nomor urut 3, Anies Baswedan-Sandiaga Salahuddin Uno.

Wakil Ketua Badan Pemenangan Pemilu PDI Perjuangan DKI Wiliam Yani mengatakan, partainya tidak masalah dengan sikap semacam itu. Bahkan dia merasa lebih tenang saat anggota yang tidak sejalan memutuskan keluar dari partai berlambang banteng moncong putih itu.

“Itu pilihan mereka kalau mendukung Anies Baswedan. Kalau partai mereka maka harus terima. Sebab dalam aturan partai tegas harus sejalan dengan keputusan pimpinan pusat. Cara itu lebih elegan karena mereka berani terang terangan. Dibandingkan mereka dua kaki,” katanya di Rumah Pemenangan Lembang, Menteng, Jakarta Pusat.

Anggota DPRD DKI Jakarta ini menyarankan agar mereka langsung saja mengajukan surat pengunduran diri. Sebelum akhirnya partai memutuskan untuk memecat kader yang tidak sejalan dengan keputusan partai mendukung paslon nomor urut 2, Basuki Tjahaja Purnama- Djarot Saiful Hidayat.

“Saran saya sebaiknya mereka mengajukan surat pengunduran diri sebelum dipecat,” tutupnya.

Diberitakan sebelumnya, kabar pecahnya akar rumput Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan ( PDIP) DKI Jakarta terbukti benar. Sebuah rumah di Jalan Duri Raya Nomor 6, Duri Kepa, Jakarta Barat menjadi saksi membelotnya sejumlah kader PDIP DKI Jakarta dari instruksi Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri. Mereka secara tegas menolak instruksi Mega untuk mendukung calon gubernur dan wakil gubernur petahana Basuki Tjahaja Purnama ( Ahok) – Djarot Saiful Hidayat. Mereka lebih memilih mendukung calon gubernur dan wakil gubernur yang diusung Partai Gerindra dan PKS, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

Kader-kader PDIP itu secara simbolis melepaskan seragam hitam bergambar banteng moncong putih, lalu mengenakan kemeja putih dengan tulisan Anies-Sandiaga. M. Ranto adalah bekas Ketua Pengurus Anak Cabang (PAC) PDIP Kebon Jeruk. Dia menceritakan kondisi PDIP saat ini yang terpecah belah. Terlebih setelah Boy Sadikin yang dulu menjabat Ketua DPD PDIP DKI Jakarta lebih dulu memilih keluar dari PDIP dan menyeberang dengan mendukung Anies-Sandiaga. Padahal, katanya, sosok Boy dapat menjaga keutuhan PDIP.

“Kita PDI belum merdeka, PDI terpecah-belah,” ujar Ranto.

Dia merasa sedih melihat Boy tersingkir dari partai. Padahal, menurutnya, Boy salah satu kader militan yang pernah dimiliki partai berlambang banteng moncong putih itu. Kepengurusan DPD PDIP DKI Jakarta diibaratkan telah dirampok dari tangan Boy. Bahkan, kata dia, kader-kader militan PDIP di Jakarta Barat justru dipecat.

“Sayang kader seperti pak Boy terbuang oleh partai. Kalau bisa bu Mega suruh bangun. Jangan asal setor muka saja,” katanya.

Mantan Ketua DPD PDIP DKI Jakarta Boy Sadikin membantah jika ada yang menudingnya membawa ‘gerbong’ kader PDIP membelot dan mendukung Anies Baswedan – Sandiaga Uno. Menurutnya, banyak kader PDIP akhirnya keluar dari partai besutan Megawati Soekarnoputri karena sudah tidak sejalan lagi dengan visi misi partai, khususnya dalam hal penetapan dukungan di Pilkada DKI Jakarta.

“Saya kan tidak mengajak, ini permintaan dari kawan-kawan. Karena mereka sebenarnya sudah lama, saya bilang mereka harus berani terima resiko seperti diberhentikan dari pengurus,” ujar Boy kepada awak media di Jalan Duri Raya No. 6, Duri Kepa, Jakarta Barat, Sabtu (3/12).

Boy akan menerima dengan tangan terbuka jika ada kader PDIP yang mengikuti jejaknya keluar dari partai dan bergabung dalam barisan pendukung Anies-Sandi.

“Saya bilang ke mereka. Kalau mereka, kawan-kawan mau bergabung ya saya terima. Tapi, untuk saya memaksa, saya tidak membenarkan itu,” lanjutnya.

Berikan Komentarmu