Ahok: Saya Nangis Karena Teringat Omongan Bapak Saya

0
322

Basuki Tjahaja Purnama sempat menangis saat membacakan eksepsi di persidangan perdananya sebagai tersangka kasus dugaan penistaan agama pada Selasa (13/12) kemarin. Dia sempat berhenti sejenak menyeka air matanya melanjutkan membacakan keberatan terhadap dakwaan jaksa penuntut umum (JPU).

Basuki atau akrab disapa Ahok ini akhirnya menceritakan mengapa sampai dirinya menangis saat membacakan keberatannya itu. Kejadian bermula saat dia tengah menerima pengaduan warga di Rumah Pemenangan Lembang, Menteng, Jakarta Pusat.

Salah seorang warga sempat menyarankan agar mantan Bupati Belitung Timur itu untuk tidak menangis lagi. Sebaiknya dia bergembira dan bernyanyi untuk menyongsong esok hari. Namun, Ahok akhirnya mengungkapkan alasannya sempat ternyeruh dan menangis di hadapan majelis hakim.

“Kemarin itu, tanggal 13 kemarin persis 19 tahun ayah saya meninggal. Jadi kemarin itu saya ingat, ayah saya hormati muslim. saya langsung ingat dalam ajaran Islam itu, kalau kita menyakiti orang tua atau menista orang tua, dalam kepercayaan Islam, ayah kita nangis di kuburan,” katanya di Rumah Pemenangan Lembang.

Dia menambahkan, hatinya hancur saat mengenang sikap dan perkataan ayahnya, Alm. Indra Tjahaja Purnama (Tjoeng Kiem Nam) yang notabene baik terhadap umat muslim. Sehingga dia merasa sangat terpuruk mengenang sosok orang yang membesarkannya saat duduk di pengadilan sebagai tersangka dugaan penistaan agama.

“Makanya saya teringat bagaimana Ayah saya baik sama orang muslim dan membantu orang muslim begitu banyak dengan ayah angkat saya muslim, masak sekarang saya duduk sebagai terdakwa di sini di sidang dengan tuduhan menista agama Islam yang ayah saya hormati, menista agama Islam yang ayah angkat saya hormati. Pas meninggalnya,” tegasnya.

Suami Veronica Tan ini mengenang, salah satu pesan orang tuanya adalah untuk terus bersaudara dengan orang tua angkatnya, Misribu Andi Baso Amier binti Acca. Sehingga saat sidang berjalan, dia hanya mengingat ucapan ayahnya agar terus menjadi keluarga, walaupun berbeda kepercayaan.

“Kemarin saya teringat omongan bapak saya, jadi saya teringat kemarin di 19 tahun kemarin,” tutupnya.

Berikan Komentarmu