Buku Jadi Tanda ‘Cinta’ Megawati Untuk Ahok

0
304

Saat merayakan ulang tahun ke-70, Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri memberikan sebuah buku kepada beberapa orang. Tidak terkecuali, Presiden Joko Widodo dan Calon Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama atau akrab disapa Ahok.

Tentu saja, buku pertama yang berjudul “Megawati dalam catatan wartawan bukan media darling biasa” itu diberikan kepada Presiden Joko Widodo, disusul diberikan ke Ahok.

Saat memberikan buku tersebut ke Ahok, Mega sekaligus menyampaikan dukungan penuhnya agar Ahok kembali memimpin Ibu Kota. “Itu adalah nurani saya, lho kalau cari pemimpin ya beneran saja dan saya lihat beliau bisa memimpin dan saya tetap memilih dia dan tetap mendukung dia,” ujar Mega.

Selain Jokowi dan Ahok, Mega juga memberikan buku tersebut kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, dan penyanyi tiga zaman Titiek Puspa. Tak ketinggalan sanjungan dan kekaguman Mega terhadap Susi dan Titiek pun disampaikan.

“Ya kalau mau dibilang preman ya sejujurnya saya juga ada sedikit preman-premannya. Silakan ibu Susi Pudjiastuti. Lalu ada penyanyi yang sampai saat ini suaranya masih saya sangat sukai mba Titiek Puspa,” ucapnya.

Ahok tampak sumringah usai mendapat buku dari Mega. Dia mengatakan, ini bukan kali pertama dia mendapatkan buku dari Presiden ke-5 RI itu. “Ini buku ke dua, sama pas di Gedung Arsip juga sekali,” kata Ahok.

Mengenai adanya pesan dari Megawati, mantan Bupati Belitung Timur itu hanya tersenyum dan enggan memberikan penjelasan. Menurutnya, nasihat itu tidak disampaikan di acara terbuka, melainkan di rumah.

“Kalau pesan di rumah saja,” ucapnya sembari tertawa.

Buku pertama yang dimaksud itu diberikan Tahun lalu, tepat saat perayaan ulang tahun Mega ke-69, putri proklamator itu juga memberikan buku bertajuk ‘Menangis dan Tertawa Bersama Megawati Soekarnoputri’.

Dahulu, ketika Ahok masih menegaskan maju secara independen, hubungannya dengan PDIP disebut mulai renggang. Terlebih, saat permintaannya untuk menggandeng Djarot Saiful Hidayat diulur, sampai para kader menyerang Ahok, semakin menguatkan isu mereka berpisah jalan.

Kondisi ini tampaknya mulai cair ketika Ahok datang dalam launching buku dengan judul ‘Megawati dalam Catatan Wartawan, Menangis dan Tertawa Bersama Rakyat’ di Gedung Arsip Nasional, Jakarta, 2016 silam.

Ahok yang mengenakan batik berwarna hitam datang sekitar pukul 19.00 Wib atau saat video tentang Presiden RI kelima Megawati Soekarnoputri sedang diputar. Dia langsung menyalami Megawati, Menteri PMK Puan Maharani, serta Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Wakil Presiden era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono serta Menko Maritim Rizal Ramli.

Dia terlihat duduk di meja yang bersebelahan dengan meja Megawati. Ahok duduk satu meja dengan Menteri Koperasi dan UKM Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga, Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Saiful Hidayat, Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki, kader PDI-P Andreas Hugo Pareira dan Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto.

Kehadiran Ahok itu pun mendapat sindirian sekaligus pujian dari Budayawan, Butet Kertaradjasa. Butet yang memandu acara langsung menyinggung Ahok.

“Ini launching buku, meskipun di tengah-tengah hiruk pikuk independen, Ahok datangi ibunya (Megawati),” kata Butet.

Sindirian Butet langsung membuat tamu yang hadir menyoraki Ahok. Ada juga terdengar suara “huuuuuuu….” saut tamu di lokasi.

Ahok pun terlihat hanya tertawa dengan ekspresi malu. Usai tamu yang hadir menyoraki Ahok, Butet pun melanjutkan celetukannya.

“Ini launching buku Megawati dalam Catatan Wartawan, Menangis dan Tertaea Bersama Rakyat ya. Bukan launching buku Megawati menangis dan tertawa bersama Ahok,” lanjut Butet.

Mega sendiri mengaku terkejut dengan kedatangan mantan politisi Gerindra itu. Saat berada di atas panggung, anak proklamator Bung Karno itu menyindir Ahok. “Ahok datang saya heran juga dia datang,” sindir Mega.

Tak hanya itu, Ahok pun adalah orang pertama yang diberikan buku Megawati dalam catatan wartawan ini. Salah seorang wartawan yang berkontribusi menulis buku ini memilih dan memanggil Ahok.

“Dalam buku ini banyak sekali pelajaran tentang perjuangan dan berpolitik. Saya pilih pak Ahok,” panggil salah seorang penulis buku.

Namun seiring berjalannya waktu PDIP dan Ahok mencair. PDIP pun mengusung Ahok menjadi calon gubernur DKI.

Berikan Komentarmu