SBY: Kalau Sayang NKRI, Maka Tidak Perlu Ada Jarak Atau Permusuhan Diantara Kita Semua!

0
251

Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memuji pertemuan antara Menko Polhukam Wiranto dan pemimpin Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq serta ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bachtiar Nasir, kemarin. Menurutnya, itu adalah bentuk tindakan persuasif yang lebih mengedepankan pendekatan hati ketimbang pendekatan secara kekuasaan.

“Ketika saya mendengarkan statement kedua belah pihak dan mengetahui ada pertemuan itu, terus terang saya sangat bersyukur. Alhamdulillah akhirnya dapat dilakukan pertemuan yang menyejukkan, pertemuan hati antara negara dalam hal ini pemerintah dengan para pemimpin aksi damai para pemimpin umat umat Islam,” terangnya setelah melaksanakan salat Jumat berjamaah di Masjid Jamie Al Riyadh, Kwitang, Senen, Jakarta Pusat.

“Oleh karena itu, pertama-tama tentu saya mengucapkan terima kasih secara pribadi maupun selaku mantan presiden kepada bapak Wiranto yang telah memberikan contoh bagaimana bisa menjalin silaturahim yang baik. Mengatasi masalah, mencari solusi secara bijak karena pendekatan yang mulia, persuasif, pendekatan hati dan tidak menggunakan pendekatan kekuatan ataupun kekuasaan. Istilah saya beliau menggunakan soft power dan bukan hard power,” sambungnya.

SBY juga mengapresiasi sikap Habib Rizieq yang telah berjiwa besar dengan menghormati pemerintah, dimana rencana semula aksi 112 akan dilakukan long march namun rencana ini akhirnya diurungkan. Halnitu dilakukan guna menciptakan suasana yang aman dan tentram.

“Kedua saya juga berbahagia mendengar pernyataan dari Habib Rizieq bahwa mereka menghormati keinginan dan harapan pemerintah untuk menjaga situasi yang aman, tentram dan damai utamanya di Jakarta. Saya juga mengucapkan penghargaan kepada para pemimpin aksi damai besok hari yang semula akan melakukan Long March tetapi diubah menjadi acara zikir dan doa di masjid Istiqlal. Ini menunjukkan jiwa besar dan juga respon yang positif terhadap ajakan pemerintah untuk bersama-sama menjaga situasi yang yang betul-betul tenang dan damai,” kata SBY.

SBY juga menyambut positif pernyataan Rizieq terkait kabar tentang dirinya disebut anti Pancasila.

“Saya juga mendengarkan statement yang gamblang dari Habib Rizieq yang menjunjung tinggi NKRI Pancasila kebhinekaan. Ini penting sekali diucapkan agar rakyat kita mendengarkannya secara langsung sebab isu-isu terakhir ini itulah digulirkan seolah-olah yang melaksanakan aksi damai itu anti NKRI anti Pancasila dan anti kebhinekaan. Kita semua berbahagia karena kalau bangsa Indonesia semua sayang sama NKRI, sayang sama Pancasila dan kebhinekaan. Maka tidak perlu ada jarak atau permusuhan diantara kita semua karena kita bangsa yang satu,” tuturnya.

Lebih lanjut ia menuturkan, bahwa tindakan yang dilakukan pemerintah maupun para pemimpin aksi 11/2 sebagai contoh yang baik untuk menghilangkan kesan adanya jarak antara pemerintah dengan umat beragama, khususnya umat Islam. SBY juga menyatakan tidak perlu adanya ketakutan terhadap kaum muslim atau Islamophobia.

“Saudara-saudara ini contoh yang baik karena tidak bijak dan tidak tepat kalau negara pemerintah berjarak dengan umat Islam dan berjarak dengan umat agama manapun apalagi mayoritas penduduk Indonesia beragama Islam. Kalau ada jarak, ada ketegangan apalagi kebencian satu sama lain kita semua menangis kita semua merugi. Alhamdulillah, saya baca kemarin itu tanda-tanda yang baik bahwa tidak perlu lagi ada saling membenci begitu satu sama lain karena tentu juga tidak perlu ada islamophobia di negeri sendiri,” tuturnya.

SBY juga berharap agar kedepannya pemerintah dengan para pemimpin umat beragama bisa bergandengan tangan untuk menjaga kebhinekaan, persatuan dan kesatuan di Tanah Air.

“Harapan saya cara-cara yang baik seperti ini terus berlanjut terus dilakukan oleh negara, oleh pemerintah. Harapan saya juga para pemimpin umat juga bisa bergandengan tangan dengan pemerintah untuk menciptakan suasana yang damai,” pungkasnya.

Berikan Komentarmu