Ruhut Soal Penolakan Salati Jenazah : Ikut Aku Dijamin Masuk Surga

0
219

Sejak pekan lalu beredar spanduk di sejumlah masjid atau perkampungan warga di Jakarta. Dalam spanduk itu tertulis mengharamkan menyalatkan jasad warga yang memberikan dukungan pada penista agama.

Juru bicara pasangan Cagub-Cawagub DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama- Djarot Saiful Hidayat, Ruhut Sitompul ikut angkat bicara terkait spanduk bernada penolakan terhadap penista agama itu. Menurut Ruhut, tidak perlu takut jika tidak didoakan ketika meninggal dunia.

“Ha ha ha jangan mau ditakut-takuti dengan tidak dido’ai kalau mati,” ucap Ruhut lewat akun twitternya @ruhutsitompul. Ruhut menulis cuitannya itu pada Sabtu (25/2) lalu.

Bahkan, dalam cuitannya, Ruhut mengajak agar masyarakat ikut bersama dirinya jika ingin masuk surga. Ia sesumbar, jika meninggal dunia, dirinya pasti akan masuk surga.

“Ya sudah ikut aku saja kalau mati selain dido’ain juga dijamin masuk surga,” ucap Ruhut.

Seperti diketahui, suara penolakan terhadap penista agama terus menggema di Jakarta. Setelah sebelumnya demo besar-besaran di Jakarta beberapa waktu lalu, kini beredar spanduk ujaran kebencian di sejumlah masjid atau perkampungan warga.

Dalam spanduk itu tertulis mengharamkan menyalatkan jasad warga yang memberikan dukungan pada penista agama. Spanduk itu mulai terlihat sejak pekan lalu.

Kementerian Agama dan Majelis Ulama Indonesia bereaksi keras atas banyaknya spanduk demikian beredar. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengajak umat beragama untuk menjadikan rumah ibadah sebagai tempat saling merekatkan persaudaraan dan memperkokoh prikemanusiaan.

Ajakan ini disampaikan Menag dalam siaran pers di laman Kemenag.go.id, sehubungan adanya rumah ibadah yang memasang spanduk bertuliskan ‘Masjid ini tidak mensalatkan jenazah pendukung dan pembela penista agama’ yang juga viral di media sosial.

Menag berharap semua pihak bisa menahan diri untuk tidak menyampaikan ujaran atau memasang spanduk atau selebaran yang justru bisa merusak persatuan umat dan bangsa.

“Marilah kita jadikan rumah ibadah sebagai tempat yang paling aman, dan karenanya tidak boleh justru menjadi tempat sumber munculnya keresahan dan pertikaian antarkita,” pesan Menag.

Seruan serupa juga disampaikan MUI. Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Zainut Tauhid Sa’adi menegaskan, kewajiban umat Islam mensalatkan muslim yang meninggal. Tidak ada sangkut paut dengan munafik atau kafir.

“Kita tidak boleh menghukumi seseorang itu munafik atau kafir, yang berhak hanya Allah SWT,” kata Zainut di Jakarta.

Dia mengingatkan kepada umat Islam bahwa mengurus jenazah hukumnya fardhu kifayah. Maka umat Islam berkewajiban memandikan, mengkafani, mensalatkan dan menguburkan bagi seorang jenazah Muslim. Fardhu kifayah artinya jika tidak ada seorang pun yang melaksanakannya, dalam konteks ini mengurusi jenazah, maka semua orang yang mukim atau bertempat tinggal di daerah tersebut berdosa.

Berikan Komentarmu