Soal Nama Besar Di Kasus e-KTP, JK Minta Tunggu Fakta Persidangan

0
247

Sidang perdana dua terdakwa kasus korupsi proyek KTP elektronik (e-KTP) akan digelar, Kamis (9/3). Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah memberikan sinyal bakal ada nama besar dan peranannya yang bakal disebut dalam sidang tersebut.

Wakil Presiden Jusuf Kalla enggan mengomentari terkait nama-nama besar yang akan disebut dalam persidangan. JK, sapaan akrabnya, lebih memilih menunggu persidangan yang akan digelar lusa tersebut.

“Tunggu lusa lah, kita juga tidak tahu, isunya juga sama-sama kita tidak tahu jumlahnya,” kata Wapres JK di sela-sela KTT IORA, JCC, Senayan, Jakarta.

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Agus Rahardjo sebelumnya mengungkapkan, ada nama-nama besar yang terlibat dalam korupsi proyek pengadaan kartu tanda penduduk (KTP) elektronik. Dia mengatakan, pada persidangan nantinya akan terungkap nama-nama besar yang disebut dalam kasus korupsi tersebut.

“Nanti anda tunggu kalau anda mendengarkan tuntutan yang dibacakan, anda akan sangat terkejut. Banyak orang yang namanya akan disebutkan di sana,” kata Agus.

Juru bicara KPK, Febri Diansyah mengatakan, ada tiga tahapan yang diduga kuat telah terjadi penyimpangan dalam pembahasannya proyek e-KTP. Tahapan pertama adalah pembahasan anggaran pertama. Pada tahap ini ada beberapa pertemuan sejumlah pihak untuk membicarkan proyek yang digagas mantan Menteri Dalam Negeri, Gamawan Fauzi.

“Yang kedua tentu tahap pembahasan anggaran yang melibatkan sejumlah anggota DPR dan juga unsur pemerintah di sana. Kita menemukan indikasi yang disebut dengan “praktik ijon” dan ada cukup banyak pihak yang juga menikmati aliran dana e-KTP,” ujar Febri saat menyampaikan konferensi pers di Gedung KPK.

Namun dia masih enggan menyebutkan dugaan keterlibatan petinggi-petinggi partai ataupun anggota DPR khususnya komisi II selaku mitra Kementerian Dalam Negeri. Tahapan selanjutnya yang dianggap menyimpang adalah pengadaan. Pada tahap inilah kerugian negara sekitar Rp 2,3 triliun terjadi.

“Tahap pengadaan tentu ada penyimpangan yang kita temukan mulai dari penentuan harga sampai pada indikasi kerugian negara sekitar Rp 2,3 triliun,” jelasnya.

Berikan Komentarmu