Dianggap Meniru, Anies-Sandi Sindir Djarot Saat Tampil Berpeci

0
152

Calon wakil gubernur DKI Jakarta nomor urut dua, Djarot Saiful Hidayat, mengubah penampilannya di Pilkada DKI Jakarta putaran dua. Selain mengenakan kemeja kotak-kotak, Djarot kini berpeci.

Hal itu terlihat jelas di kertas surat suara yang telah selesai dicetak. Padahal, selama ini penggunaan peci menjadi ciri khas pasangan nomor urut tiga, Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

Di Pilgub DKI putaran satu, pasangan Anies dan Sandi bahkan menjadikan peci yang mereka kenakan sebagai tagline. Dalam kampanyenya kala itu, mereka menyerukan untuk mencoblos peci sebagai pembeda dengan dua pasangan lainnya.

Ide berpeci Anies-Sandi kemudian diikuti Djarot. Djarot berdalih pengenaan peci bukan soal mencontek. Dia pribadi mengaku mengenakan peci karena penutup kepala itu menjadi simbol dari nasionalisme.

“Inilah sebetulnya yang dipopulerkan Bung Karno (Soekarno). Makanya begitu kami (pergi) haji atau umrah, begitu pakai kopiah orang sana (Arab Saudi) pasti tahu, (menyebut) Indonesia Indonesia, Soekarno Soekarno,” ungkap Djarot membeberkan alasannya mengenakan peci.

Hal itu disampaikan Djarot saat ditemui di Masjid Cut Meutia, Menteng, Jakarta Pusat, Jum’t (24/3).

“Inget lho, saya itu dikenal dengan juru kuncinya makam Bung Karno di Blitar. Sepuluh tahun dan semua tahu. Dan Bung Karno yang mempopulerkan pakai kopiah. Kalau orang Jawa Timur namanya kopiah, kalau di sini (Jakarta) bilangnya peci,” imbuh Djarot.

Dia tak mau pusing jika pilihannya menggunakan peci dianggap menjiplak kubu Anies dan Sandi. “Gak tahu saya,” singkatnya.

hok, sapaan Basuki, juga tak menanggapi berlebihan. Dia memang memutuskan tak mengikuti Djarot. “Kalau pakai peci terlalu ganteng,” kelakar Ahok.

Ditambahkan Juru bicara tim pemenangan Basuki Tjahaja Purnama-Djarot, Eva Kusuma Sundari mengatakan, penampilan Djarot yang berubah tak perlu dipermasalahkan. Dia menilai Djarot memakai peci karena telah menyandang status haji.

“Pak Djarot kan haji. Kalau itu dipakai dua alasan, satu dia memang nasionalis dan itu simbol nasionalis,” kata Eva,

“Jangan lupa itu simbol nasionalis gak bisa dimonopoli oleh orang perorang atau paslon,” sambungnya.

Sebagai kandidat yang pertama kali mengenakan peci, Anies-Sandi mensyukuri apa yang mereka lakukan ditiru oleh lawan politiknya.

“Jadi memang ada yang original, ada yang meniru. Nah kita senang sekali bahwa banyak ide-ide kita makin sering ditiru dan Insya Allah dengan begitu warga Jakarta yakin mana yang memang memunculkan ide-ide baru, mana yang tidak. Saya juga bersyukur bahwa incumbent mengakui yang dibuat oleh pasangan calon nomor tiga itu baik dan diadopsi,” kata Anies.

Anies juga menilai, penggunaan peci bukan karena simbol agama tertentu melainkan sebagai tanda nasionalis. Meskipun dia menyayangkan kenapa hanya Djarot yang memakai peci.

“Kita pakai kopiah sebagai tanda nasionalis, itu aja. Menurut saya enggak perlu jadi masalah. Itu urusan pribadi kita masing-masing,” ucap mantan Mendikbud itu.

“Sayang yang pakainya cuma satu. Kalau memang itu identitas kebangsaan harusnya dua-duanya ya pakai,” sambung dia.

Ditambahkan calon wakil gubernur, Sandiaga Uno, mengatakan dengan penampilan baru itu, Djarot dinilainya mengakui bahwa peci ciri khas identitas Indonesia identitas Nusantara.

“Alhamdulillah Pak Djarot terinspirasi, akhirnya mengakui bahwa peci itu adalah representasi nusantara kebangsaan kita semua foto dari pimpinan bangsa kitakan gunakan peci,” kata Sandiaga.

Sandi menceritakan, penggunaan peci atas saran Didit Prabowo, yang tak lain putra dari Ketum Gerindra Partai Gerindra, Prabowo Subianto. Sandiaga mengatakan, bersama Anies dirinya tak terganggu dengan penampilan baru Djarot. Dia tetap yakin, masyarakat akan memilih penampilan pasangan yang konsisten.

“Saya rasa masyarakat cerdas kok, mana yang baru pakai peci. Mana yang pecinya yang kelihatan yang memang memakai peci sebagai hal yang konsisten, mana yang ikut-ikutan kelihatannya,” sambungnya.

Padahal dulu, kata dia, pemakaian peci pernah membuat mereka diprotes karena dianggap milik suatu agama.

“Kami dituduh seperti itu tapi kami tidak menanggapi. Dia bilang, Mas Anies dan Bang Sandi ini auranya keluar kalau pakai peci akhirnya kita coba pakai peci dan dia bilang ini adalah ciri bangsa nggak kepikir sama sekali malah dikaitkan ke SARA justru kami justru baca di medsos belakangan bahwa itu kita dituduh seperti,” kata Sandiaga.

Ditambahkan Sandiaga, berubahnya penampilan Djarot akan mengubah tagline mereka di hari pencoblosan 19 April mendatang. Sebab selama ini, mereka memakai tagline ‘coblos pecinya’ untuk menggambarkan ciri khas mereka di surat suara.

“Mesti cari tagline baru. Yah baju putih mungkin kecuali Pak Djarot ganti juga bajunya putih, saya belum lihat tapi kalau baju putih yang jadi ciri khas kita mungkin kita arahkan ke baju putih tapi nomor tiga yang jelas,” kelakar Sandiaga.

Sandi juga sempat menyinggung akan membuat inovasi baru soal blusukan online. Dia menawarkan pada Djarot jika mungkin ingin meniru ide blusukan online yang diberi nama 360 derajat cameramen.

“Kita ada inovasi baru lagi yang kalau Pak Djarot mau meniru lagi. Ini adalah inovasi yang juga bisa ditiru Pak Djarot. Nanti akan kami hadirkan manusia 360 derajat di mana akan live Facebook di setiap kampanye untuk menunjukkan komunikasi kami dan untuk menyampaikan desiminasi informasi-informasi,” tegas Sandiaga.

Berikan Komentarmu