Pilgub Jabar, Dedi Mulyadi Kurang Pede Namun Ridwan Kamil Optimistis

0
146

Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat masih satu tahun lagi. Namun nama calon-calon kuat yang diyakini pantas memimpin Jawa Barat sudah beredar sejak saat ini. Nama-nama itu tidak asing lagi di telinga. Bahkan ada partai politik yang sudah tancap gas mendeklarasikan dukungan untuk salah satu calon gubernur. Disusul sejumlah partai yang mulai kasak kusuk melakukan lobi dan komunikasi politik.

Lembaga survei juga ikut ‘memanaskan’ bursa persaingan calon gubernur Jawa Barat. Salah satunya Indo Barometer yang baru merilis hasil survei elektabilitas sosok kuat bakal calon Gubernur Jawa Barat. Terdapat 14 nama yang diajukan melalui skema pertanyaan tertutup. Hasilnya, Wali Kota Bandung Ridwan Kamil tertinggi dengan raihan 22 persen, disusul Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar dengan elektabilitas 14,1 persen, mantan Wakil Gubernur Jawa Barat Dede Yusuf dengan 11,8 persen dan Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi sebesar 7,3 persen.

Nama-nama itu merespon dengan cara berbeda. Ada yang malu-malu, ada yang terang-terangan menyatakan kesiapannya bertarung di Pilgub Jabar. Bahkan tak segan mengaku sudah didekati sejumlah partai politik. Nama Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi adalah yang malu-malu ketika bicara soal Pilgub Jabar. Pria yang selalu mengenakan iket kepala khas Sunda itu bahkan menanggapi santai hasil survei yang menempatkan dirinya dalam jajaran calon kuat Gubernur Jabar meski berada di bawah tokoh-tokoh lainnya. Dengan nada bercanda Dedi mengaku sudah bersyukur namanya masuk dalam daftar cagub Jabar.

“Sudah disebut namanya juga sudah Alhamdulillah. Segini juga sudah uyuhan (lebih baik). Atuh, saya mah apa atuh kalau dibandingkan dengan Deddy Mizwar, Ridwan Kamil dan Dede Yusuf,” kata Dedi di Purwakarta.

Bahkan, Dedi pernah merendah saat disinggung namanya dijagokan Golkar sebagai calon gubernur Jabar. Dia berujar bahwa persoalan pemilihan gubernur terlalu jauh baginya yang hanya berasal dari desa.

“Kalau bertanya soal Pilgub, harusnya ke masyarakat, silakan ditanya, pengennya pemimpin yang seperti apa, saya mah orang desa, terlalu tinggi kalau ditanya siap tidak siap,” kata Dedi.

Dedi juga masih malu-malu saat disinggung pembahasan internal Partai Golkar soal Pilgub Jabar yang disebut-sebut menjagokannya. Dia lebih memilih sibuk menjalankan aktivitas menjadi bupati karena masih ada pekerjaan rumah yang belum diselesaikan. Dedi mengatakan, akan lebih memenuhi kebutuhan publik daripada sibuk berwacana Pilgub Jabar.

“Saya termasuk orang yang sampai hari belum ini membicarakan urusan gubernur dengan siapapun. Termasuk di internal partai saya sendiri ya,” papar Dedi Dedi di Balai Kartini.

“Saya lebih memilih sebagai bupati yang bekerja sajalah hari ini. Ada pekerjaan yang harus kita tuntaskan, sehingga kebutuhan publik lebih terjawab dibanding dengan masuk wacana Pemilihan gubernur,” imbuh Dedi.

Saat ditanya terkait kesiapannya, Dedi menjawab sambil bercanda. Dedi mengatakan ini Pilgub bukan upacara jadi tidak ada siap dan tidak siap. Menurutnya, mempersiapkan calon pemimpin bukan seperti main kuis. Dedi mengaku ada dua ketentuan yang akan dirinya ikuti, yaitu ketentuan alam dan ketentuan publik.

“Itu kuis biasanya. Ini Pilgub bukan upacara bukan kuis. Jadi ikuti saja seperti air mengalir. Ada dua ketentuan yang harus saya ikuti satu ketentuan alam dua adalah ketentuan publik itu saja Saya melihat nanti ketentuan alam dan publiknya kita rasakan saja,” ucapnya.

Respons berbeda diperlihatkan Ridwan Kamil. Wali Kota Bandung ini tidak lagi malu-malu bicara kesiapannya bertarung dalam Pilgub Jawa Barat. Apalagi setelah Partai NasDem secara terbuka mendeklarasikannya sebagai bakal calon gubernur. Pria akrab disapa Emil ini pun menyatakan siap memimpin Bumi Pasundan. Emil juga menyampaikan bahwa dirinya sudah identik dengan tatar Sunda.

“Saya sangat Sunda dari sisi etnisitas. Ayah saya orang Subang dari kakek orang Garut dari nenek orang Sumedang. Ibu saya orang Tasik dari nenek orang Panjalu, dari kakek orang Garut. Dan (Saya) lahir di Bandung. Jadi kurang Jawa Barat apalagi seorang Ridwan Kamil,” ucap Emil saat deklarasi pencalonanya oleh NasDem di Lapangan Tegalega.

Emil kian mantap maju dalam Pilgub Jawa Barat (Jabar) 2018. Apalagi setelah dia mendapat dukungan mantan Gubernur Jabar, Solihin GP. Dukungan itu membuat dirinya yakin 90 persen melaju memperebutkan kursi orang nomor satu di Jabar. Menurut Emil, dukungan Solihin GP dirasa penting. Bahkan untuk maju sebagai presiden banyak orang minta restu kepada sesepuh Jawa Barat kini berusia 91 tahun itu.

“Silaturahmi dengan Mang Ihin (Solihin GP) dan tiga tokoh lainnya. Hasilnya Solihin GP mendukung sepenuhnya niatan saya tahun depan maju sebagai calon gubernur. Sekarang sudah 90 persen,” katanya.

Emil semakin percaya diri dengan mengklaim sudah mendapat dukungan dari beberapa daerah seperti Cirebon, Sukabumi, dan Bogor. Diakuinya, dukungan tersebut menjadi awal yang baik. Karena meskipun belum memulai deklarasi dan kampanye, masyarakat di beberapa daerah selain Kota Bandung sudah menyatakan dukungan. Dia juga sudah siap membuat inovasi-inovasi bagi provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia ini. Meskipun konsepnya belum dirancang karena dianggapnya masih terlalu jauh berandai-andai.

Dia juga mengaku sudah menjalin komunikasi intensif dengan beberapa partai politik terkait Pilgub Jabar. Mulai dari PKS, PDIP, Nasdem, PPP, PKB dan Demokrat. Namun, dari semua partai sudah diajak komunikasi, baru Nasdem yang sudah memberikan dukungan dan segera mendeklarasikan pada hari akhir pekan ini.

“Semua sudah diajak komunikasi, namun yang sudah ada hitam di atas putih itu baru partai Nasdem,” tuturnya.

Saat menghadiri perayaan hari ulang tahun Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri di Taman Ismail Marzuki, Senin (23/1), Emil sempat membantah jika kehadirannya pada perayaan untuk mencari dukungan partai berlambang banteng moncong putih itu. Pengakuan Emil, dia sering bertemu Megawati lantaran keduanya memang sudah akrab.

“Saya ini akrab dengan siapa saja, sok mending banyak didukung atau sedikit didukung? Banyak didukung,” tuturnya sambil tersenyum.

Disinggung mengenai dukungan PDIP, Emil mengaku tak akan menolak. Emil bahkan akan mengapresiasi.

“Siapapun yang mendukung pasti saya apresiasi, mau apa saja. Jadi bagi kita masa yang mendukung ditolak, ‘geus puguh’ (sudah pasti) kita teh butuh dukungan dari mana pun juga,” katanya di Bandung.

Berikan Komentarmu