Ishomuddin Belum Terima Surat Pemecatan Dari MUI Karena Bela Ahok

0
164

Majelis Ulama Indonesia (MUI) memecat Ahmad Ishomuddin dari jabatannya sebagai Wakil Ketua Komisi Fatwa MUI. Alasannya karena memberikan kesaksian yang meringankan bagi terdakwa kasus dugaan penistaan agama, basuki Tjahaja Purnama atau Ahok. Alasan lain, dia tidak terlalu aktif dalam MUI.

Ishomuddin mengaku belum menerima surat pemberhentian. Dia tidak mempermasalahkan jika diberhentikan. “Saya belum mengetahui pemberhentian karena belum ada satu orang pun dari MUI yang menyampaikan ke saya. Jabatan bagi saya bukan segalanya,” ujar Ishomuddin selepas menjadi pembicara dalam Sekolah Kepemimpinan Gus Dur di Kantor Sekretariat Jenderal DPP PKB, Jakarta Pusat.

Terkait kesaksiannya dalam sidang sidang penistaan agama, Ishomuddin menegaskan tidak ada unsur politik. Dia hanya menginginkan hakim bersikap objektif dalam memutuskan perkara ini.

“Ini tidak ada unsur politik, saya tidak ke partai. Saya penting hadir sebagai pengimbang agar hakim memutus dengan objektif tidak dzalim dalam memutuskan. Jangan menghukum orang yang benar dan melepaskan orang yang salah,” imbuhnya.

Dalam pidatonya di acara Sekolah Kepemimpinan Gus Dur, Ishomuddin menegaskan jika warga non-muslim bukanlah musuh bagi muslim. Warga non muslim adalah warga yang harus diajak bekerja sama untuk kemaslahatan. “Semua adalah keluarga,” tegasnya.

Ishomuddin mengatakan untuk memilih pemimpin jangan melihat latar belakang agama, tetapi mutu, visi, misi, program, dan solusi. Ishomuddin meminta agar tidak menggunakan ayat Alquran untuk kepentingan politik.

“Orang yang tidak boleh jadi pemimpin, yang pertama tidak mampu atau tidak punya kapabilitas. Jangan pakai-pakai ayat. Tidak boleh menggunakan ayat Alquran untuk kepentingan politik,” tandasnya.

Dia mengambil contoh sikap Gus Dur yang memanusiakan manusia. Gusdur selalu bersilaturahmi tanpa memandang suku dan agama. “Karena beliau menghargai semua manusia. Nguwongno uwong (memanusiakan manusia),” jelasnya.

Berikan Komentarmu