Fadli Zon : Saya Tidak Takut Mati!

0
223

Wakil Ketua DPR Fadli Zon menegaskan tidak takut dengan ancaman pembunuhan disampaikan pemilik akun Twitter Nathan P Suwanto. Menurut Fadli, kematian bisa datang dan kepada siapa saja termasuk dirinya.

“Saya sih tidak takut mati ya. Saya sudah tiga kali mau mati gitu. Jadi saya merasa kematian bisa datang kapan saja. Kalau sudah waktunya ya waktunya,” kata Fadli di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta.

Fadli melalui Advokat Cinta Tanah Air (ACTA) telah melaporkan ancaman pembunuhan yang akan dilakukan Nathan ke Bareskrim Mabes Polri. Laporan itu dibuat agar seseorang tidak sembarangan menggunakan media sosial untuk menebar kebencian termasuk ancaman pembunuhan.

“Jadi semata-mata saya kira dalam rangka supaya orang tidak sembarangan lah menggunakan media sosial apalagi dengan ujaran kebencian termasuk ancaman pembunuhan,” tegasnya.

Selain itu, kata Fadli, jalur hukum ditempuh untuk memberikan pelajaran sekaligus efek jera bagi publik agar lebih bertanggungjawab dalam menggunakan media sosial.

“Nanti kalau ini dibiarkan akan banyak orang lain yang ikut. Kalau dimaafkan, nanti orang akan “oh dimaafkan”. Saya kira ini harus jadi pembelajaran sehingga ada efek jera,” ujarnya.

Pihak kepolisian diminta segera memproses dan mendalami laporannya. Fadli menegaskan, gerak cepat dari Polri diperlukan guna menepis anggapan adanya tebang pilih dalam mengusut suatu kasus.

“Kita tunggu dari pihak kepolisian untuk merespon ini secara cepat. Saya juga minta jangan lama-lama, kasus-kasus lain cepet kok, ini jangan lama-lama. Jangan nanti ada anggapan ada tebang pilih di dalam penanganan kasus,” terangnya.

Wakil Ketua Advokat Cinta Tanah Air (ACTA), Agustiar, selaku Kuasa Hukum Fadli Zon menjelaskan, dasar hukum yang digunakan untuk melapor ke Bareskrim Polri yaitu UU Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE khususnya pasal 28 ayat 2 mengenai penyebaran ujaran kebencian atau permusuhan yang ancaman hukumannya 6 tahun penjara dan pasal 29 mengenai ancaman kekerasan yang ditujukan secara pribadi yang ancaman hukumannya 12 tahun penjara.

“Bukti-bukti yang kami serahkan hari ini adalah tautan dan foto tampilan tweet terkait. Selain itu kami juga menyerahkan nama-nama dua orang saksi yang mengetahui terjadinya penyebaran tweet,” kata Agustiar di Bareskrim Polri, Senin pekan ini.

Berikan Komentarmu