Kita Bersaudara, Setop Saling Hina

0
142

Panasnya suhu politik selama hajatan Pilkada DKI Jakarta, membuat masyarakat kerap berseteru. Suasana tak kunjung sejuk. Mereka tak segan saling hina hingga mengutuk bila tak satu pemahaman. Pesan perdamaian para tokoh diharap mampu meredakan pelbagai konflik.

Kondisi saling serang kentara dirasakan jagat dunia maya. Melalui media sosial, mereka tanpa norma dan etika menghujat sesama. Peristiwa ini menjadi perhatian Presiden Joko Widodo. Dia meminta masyarakat berhenti saling menghina baik di dunia maya maupun nyata.

Alasan penting Jokowi memberi imbauan itu, karena semua rakyat Indonesia adalah saudara. “Jangan saling menghujat, karena kita ini bersaudara, jangan saling menjelekkan, karena kita ini bersaudara, jangan saling memfitnah, karena kita ini bersaudara,” kata Jokowi di Istana Merdeka, Selasa kemarin. Itu disampaikan usai dirinya bertemu dengan tokoh lintas agama.

Momen saling hujat makin panas ketika Basuki T Purnama ( Ahok) kalah dari Anies Baswedan di Pilkada DKI. Setelah itu Ahok juga divonis dua tahun penjara dalam kasus penistaan agama. Banyak aksi menyuarakan kebebasan kepada Ahok.

Ada juga pihak menuntut Imam Besar FPI Rizieq Syihab segera ditindak. Sosok ini dianggap sebagai aktor penting panasnya suasana keamanan. Apalagi banyak ucapannya dianggap tidak layak sebagai tokoh agama, seharusnya memberi pesan perdamaian.

Adanya masalah ini belakangan juga dinilai sebagai ancaman perpecahan. Masyarakat seolah terbelah. Kondisi ini membuat Jokowi harus bertindak tegas. Dia telah memerintahkan Panglima TNI dan Kapolri mengatasi situasi ini. Sebab, dia tak ingin ada ancaman apapun terhadap bangsa, UUD 1945 dan Pancasila.

Permintaan menyebarkan pesan damai juga ditujukan kepada para elit politik. Jokowi meminta mereka jangan kehilangan jati diri Indonesia sebagai negara beragam Suku, Agama, Ras dan Antargolongan (SARA). Sehingga setiap masalah nantinya bisa dihadapi dengan santun dan mencerminkan keragaman.

“Untuk elite-elite politik, berilah contoh, berilah teladan, dengan kata-kata dan kalimat-kalimat yang baik, pernyataan-pernyataan yang baik dan santun, karena itulah karakter bangsa,” ujar Jokowi. Itu disampaikan ketika berada di Palu membuka kongres ke-XIX Pergerakan Mahasiswa Muslim Indonesia (PMII) sebelum bertemu tokoh lintas di Istana Merdeka.

Sementara, Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) KH Ma’ruf Amin, menegaskan komitmen dari tokoh lintas agama untuk mendukung upaya pemerintah untuk menghentikan segala upaya menimbulkan konflik di masyarakat. Tokoh lintas agama juga berkomitmen menjaga persatuan dan kesatuan satu sama lain.

“Dan kami berusaha memperbanyak dialog-dialog kebangsaan atau halaqah kebangsaan di dalam kalangan masyarakat supaya rasa kebangsaan masyarakat semakin kuat, dan keutuhan bangsa semakin dapat terjamin,” kata Ma’ruf.

Selain Ma’ruf Amin, tokoh lintas agama yang hadir di antaranya Ketua Konferensi Wali Gereja Ignatius Suryo Hardjoatmodjo, Ketua Persekutuan Gereja Indonesia Henriette T Hutabarat-Lebang, Ketua Perwakilan Umat Budha Indonesia Hartati Murdaya.

Selain itu, Ketua Umum Parisada Hindu Dharma Indonesia Wisnu Bawa Tenaya, Ketua Majelis Tinggi Agama Konghuchu Indonesia Uung Sendana L Linggarjati, dan Sekjen PBNU Helmy Faisal yang mewakili Ketua Umum PBNU Said Aqil Siradj lantaran berhalangan hadir.

Berikan Komentarmu