Untung Dan Rugi Jika Jenderal Tito Pensiun Dini

0
162

Jenderal Tito Karnavian mengaku mempunyai keinginan melepas jabatannya sebagai Kapolri sebelum masa purna bakti 2022 mendatang. Sejumlah hal menjadi pertimbangan Tito berniat menanggalkan jabatannya sebagai pemegang tongkat komando korps baju cokelat.

Padahal melihat usia Tito yang baru menginjak 53 tahun pada 26 Oktober 2016 mendatang, pria kelahiran Palembang, Sumatera Selatan, baru akan pensiun pada tahun 2022. Artinya, Tito masih mempunyai waktu lima tahun untuk memimpin Polri jika tidak ada pergantian dari Presiden.

Namun, mantan Kapolda Metro Jaya itu menegaskan tak mau menjabat Kapolri hingga tahun 2022. Meski demikian Tito enggan menyebut kapan tepatnya akan pensiun dini.

“Saya mungkin pada waktunya tidak akan sampai selesai di 2022. Kemungkinan di waktu yang sangat tepat mungkin, saya akan pensiun dini,” kata Tito usai perayaan HUT Bhayangkara ke-71 di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Senin (10/7).

Tito mengatakan, niatnya itu didasari keinginan menikmati hidup lebih santai karena menjadi Kapolri merupakan salah satu pekerjaan yang memiliki tekanan berat. Alasan lainnya untuk regenerasi di tubuh Polri.

“Perlu ada kepemimpinan baru dan seterusnya. Bayangkan kalau saya jadi Kapolri terus, 6 tahun, 7 tahun, anggota bosan, organisasi bosan, saya juga bosan. Saya mengatakan ini menjadi Kapolri ini penuh kehidupan yang stressfull, banyak persoalan-persoalan. Wajar juga kalau di luar negeri, wajar juga kalau seandainya saya mempunyai kehidupan yang less stressfull,” kata Tito.

Jika melihat rekam jejak Tito selama berkarir di kepolisian memang cukup menarik. Karirnya begitu moncer ketimbang satu angkatannya di kepolisian pada 1987 silam.

Tito merupakan lulusan terbaik dan menjadi yang pertama menyandang tiga bintang di Akpol 1987. Tiga bintang diraihnya bahkan meninggalkan para seniornya.

Bintang tiga itu diperolehnya ketika dipilih Presiden Joko Widodo menjadi Kepala BNPT. Sementara bintang satu diraihnya usai membongkar jaringan teroris pimpinan Noordin M Top.

Dia pun meraih kenaikan pangkat luar biasa menjadi Brigjen Pol kemudian naik jabatan menjadi Kepala Densus 88 Anti Teror. Sementara bintang dua diraihnya saat menjabat Kapolda Metro Jaya.

Karir Tito di Polri kemudian mencapai puncaknya ketika Presiden Joko Widodo memilihnya menjadi calon Kapolri buat menggantikan Jenderal Pol Badrodin Haiti yang saat itu mau memasuki masa pensiun. Setelah disetujui DPR, Tito lantas dilantik Presiden pada 13 Juli 2016.

Tito menjadi salah satu Kapolri termuda. Tito merupakan jebolan Akpol 1987. Jika dihitung, dia melompati lima angkatan dari Jenderal Badrodin yang merupakan Akpol 1982. Hal itu merupakan tradisi baru dalam institusi Polri. Sebab, pada umumnya pemegang tongkat estapet Tribrata-1 merupakan dua tingkat di atas Kapolri sebelumnya.

Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Kepolisian Indonesia (Lemkapi) Edi Hasibuan melihat wacana Jenderal Tito pensiun dini belum tepat. Terlebih jika dilihat pencapaian dilakukan Tito selama setahun menjabat Kapolri.

“Selama satu tahun di masa jabatannya banyak yang dibenahi. Kepercayaan masyarakat terhadap Polri semakin baik. Presiden juga memberikan apresiasi. Remunerasi naik dari 33 persen ke 55 persen. Anggaran juga pesat dari Rp 44 triliun ke 84 triliun,” kata Edi.

Belum lagi melihat pernyataan Tito yang ingin membenahi tubuh Polri yang kini masih menjadi pekerjaan rumah seperti meningkatkan manajemen internal untuk tekan koruptif dan arogansi kekuasan. Melihat hal itu rencana Tito pensiun dini belum tepat.

Menurut Edi, lantaran tugas yang masih belum kelar itulah Tito disarankan menyelesaikan jabatannya minimal hingga pemerintahan Jokowi 2019. Hal itu pun nantinya tak mengganggu regenerasi di tubuh Polri.

“Dia punya waktu 3 tahun ke depan menyelesaikan tugasnya. Artinya dalam 3 tahun ke depan wajah Polri sudah semakin baik,” ujar Edi.

Berikan Komentarmu