Sekjen PDIP Ungkan Pesan Megawati Saat Jokowi Akan Bentuk Kabinet

0
123

Sekretaris Jenderal PDIP Hasto Kristiyanto mengikuti perayaan Idul Adha 1938 Hijriyah di Masjid Al-Huda, Teggumung Wetan, Surabaya, yang dihadiri Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf. Ketika menyampaikan kata-kata sambutannya, Hasto Kristiyanto mengisahkan dialog antara Ketua Umum PDI Perjuangan yang juga Presiden RI Kelima, Megawati Soekarnoputri dengan Presiden RI Joko Widodo.

Kata Hasto, dialog itu didasari oleh Pancasila sila pertama soal Ketuhanan yang Maha Esa. Ketuhanan yang dimaksud adalahKetuhanan yang berkebudayaan, penuh toleransi, berbudi pekerti, tanpa egoisme. Megawati dan Jokowi lalu berdialog soal bagaimana membumikannya demi kesejahteraan rakyat Indonesia.

Saat itu, kata Hasto, Jokowi bertanya kepada Megawati soal bagaimana susunan kabinet akan dibentuk. Megawati lalu berkata dengan jelas kepada Jokowi, bahwarepublik ini dibangun dengan perjuangan, tetesan keringat, darah dan air mata.

“Lalu, siapa yang berkeringat bagi republik? Pada 1912, didirikanlah Muhammadiyah. Pada 1926, didirikanlah Nahdlatul Ulama. Pada1927, didirikan Partai Nasional Indonesia. Dan pada 1945, Bung Karno membangun Tentara Nasional Indonesia,” kata Hasto.

Megawati lalu menekankan kepada Jokowi, bahwa kalau keempat kekuatan ini bersatu, maka ‎Indonesia yang adil dan makmur akan terwujud dengan baik. Selanjutnya, kata Hasto, Megawati juga mengingatkan Jokowi, bahwa Islam yang masuk ke Indonesia adalah Islam yang membangun peradaban, Islam yang masuk dengan tradisi perdagangan.

“Karena itulah perkuat ekonomi rakyat, libatkanlah umat Islam dalam kegiatan ekonomi itu. Karena inilah subjek sejati Islam yang ada di Indonesia,” kata Hasto mengutip pernyataan Megawati.

Hasto secara pribadi mengatakan, sikap demikian berbeda dengan tradisi di Orde Baru, dimana Islam dijauhkan dari perdagangan. Dilanjutkan dia, oleh karena itulah Presiden Jokowi, bersama Nahdlatul Ulama dan Ketua Majelis Ulama Indonesia KH Mar’uf Amin, membangun ekonomi untuk umat.

“Itulah prinsip ketuhanan yang menyatu dengan tradisi kemanusiaan yang adil dan beradab. Tanpa ketuhanan yang bicara soal keadilan dan beradab, tak ada artinya,” kata Hasto.

Hasto juga menyampaikan bahwa Idul Adha bukan sekedar jalan pengorbanan demi keyakinan‎ kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tetapi juga sebagai cerminan bagaimana kepasrahan jiwa sebagai umat kepada Sang Maha Pencipta. Melalui itu, umat tak hanya menempuh jalankeimanan, tetapi juga menempuh jalan pengabdian bagi bangsa dan negara.

‎Dia mengaku sudah tiga tahun terakhir berada di Jawa Timur untuk merayakan Idul Adha demi menyatu dengan Wong Cilik. Bicara Wong Cilik, yang di bawah adalah adanya kaum Nahdliyin dan Marhaen.

Jawa Timur memang punya arti yang bersejarah bagi PDIP. Sebab di Jawa Timur, Bung Karno lahir dan belajar Islam sebagai semangat pembebasan dengan HOS Tjokroaminoto. Islam lah yang memberikan inspirasi kepada watak patriotisme dan nasionalisme Bung Karno.

Jawa Timur juga merekam jejak historis kultural PDIP dengan Nahdlatul Ulama. Pada Oktober 1945, Bung Karno berkonsultasi dengan para ulama yang menghasilkan Resolusi Jihad. Lahirlah inspirasi untuk menggerakkan rakyat membela kemerdekaan dengan mengorbankan jiwa dan raga pada 10 November 1945.

“Oleh Pak Jokowi kemudian dijadikanlah momen itu sebagai peringatan Hari Santri, demi memperingati bagaimana Resolusi Jihad menggerakkan rakyat di Jatim menjadi benteng kemerdekaan,” ujar Hasto.

“Dengan semangat Idul Adha ini, mari bumikan Pancasila, kita kobarkan ‎ semangat pengorbanan untuk bangsa dan negara, dengan semangat dedication of life,” tandasnya.

Selain Syaifullah Yusuf, hadir juga Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Timur yang Wakil Ketua DPRD Jawa Timur, Kusnadi. Dilakukan penyembelihan hewan kurban berupa 10 ekor sapi dan 10 ekor kambing. Hasto dan Kusnadi disambut dengan meriah di masjid yang dibangun dengan gotong royong itu.

Berikan Komentarmu