Infinity War: Perang Paling Paripurna Setelah Satu Dekade

0
91
Infinity War
Infinity War

‘Infinity War’ – Sepuluh tahun dan delapan belas film Marvel kemudian, kita sampai di klimaks bak sebuah konser yang meriah. Setelah satu dekade dan delapan belas film yang melahirkan miliaran dolar, Marvel akhirnya berhasil membuat semua mimpi terliar para nerd dan pecinta film dengan menggabungkan (hampir) semua superhero mereka ke dalam satu layar.

Dengan begitu banyaknya bayang-bayang tentang ‘Infinity War’ (terutama jika Anda adalah jenis orang yang duduk sampai akhir end credits diputar demi mendapatkan sedikit remah-remah tentang apa yang akan terjadi di seri berikutnya), tidak mengherankan jika menyebut seri Marvel yang ini mendapatkan beban paling berat untuk memuaskan penonton.

Infinity War: Perang Paling Paripurna Setelah Satu Dekade

‘Infinity War’ sejujurnya lebih asyik dinikmati jika Anda tidak membaca atau pun mencari tahu apapun soal film ini. Termasuk membaca review ini. Tapi jika Anda memang penasaran, ‘Infinity War’ bisa disingkat menjadi cerita tentang semua pahlawan Marvel yang sudah ada sebelumnya. Semua personel Avengers sampai semua personel Guardians of the Galaxy, Doctor Strange, Black Panther dan Spider-Man yang baru bergabung untuk melawan Thanos (Josh Brolin) yang berusaha menghancurkan dunia (yang minus hanyalah Ant-Man dan Hawkeye). Dia berusaha mengoleksi keenam infinity stone yang dipercaya bahwa siapapun pemilik keenam batu tersebut akan menjadi penguasa galaksi.

Musuh utama Infinity War sebenarnya adalah dari penonton sendiri. Ekspektasi Anda sebagai penonton menentukan apakah ‘Infinity War’ menjadi sebuah film fenomenal atau tidak. Kasus ini berlaku tidak hanya kepada film-film Marvel saja tapi juga terhadap film-film besar lain, seperti misalnya kasus film-film DC. Seperti misalnya kasus ‘Justice League’. Secara film, ‘Justice League’ jauh mendingan daripada ‘Batman v Superman’ yang benar-benar memberikan banyak blunder itu.

kunjungi Juga : 69QiuQiu Situs Judi Online Terpercaya

Tapi karena ekspektasi kita sebagai penonton ketinggian (yang disebabkan karena promo mereka yang besar-besaran dan fakta bahwa hampir semua superhero DC yang populer berkumpul menjadi satu), ‘Justice League’ akhirnya menjadi sebuah film semenjana. Film tersebut tidak memberikan apa-apa selain Superman bangkit dari kematian.

Jika ekspektasi Anda mengenai ‘Inifnity War’ adalah sebuah film superhero super-seru dengan adegan action tanpa henti, Anda akan bahagia. Ditulis oleh Christopher Markus dan Stephen McFeely, ‘Infinity War’ akan membuat Anda menyeringai lebar karena dari awal pembuat film ini tidak memberikan Anda napas. Setiap saat terjadi sekuens aksi yang maha-dahsyat. Rasanya seperti klimaks Avengers pertama sepanjang film. Jeda yang terjadi dihadirkan untuk memberikan eksposisi. Dialog diutarakan untuk mengucapkan informasi ke mana mereka akan pergi dan mau apa mereka di sana. Setelah itu terjadi adegan peperangan yang pasti akan membuat Anda kegirangan.

Ada lebih dari selusin sekuens yang akan membuat Anda menyeringai. Dalam kasus ini, ‘Infinity War’ jauh lebih baik daripada ‘Age of Ultron’, lebih mempunyai nyali daripada Avengers pertama dan jauh lebih dramatis daripada ‘Captain America: Civil War’.

Akan tetapi kalau ekspektasi Anda adalah berharap agar ‘Infinity War’ memperbaiki ke-generik-an film-film Marvel, Anda mungkin akan sedikit kecewa. ‘Infinity War’ adalah film Marvel luar dalam. Film ini memberikan adegan-adegan sensasional blockbuster yang hanya bisa dilakukan oleh sebuah seri yang sudah menjembatani 18 film sebelumnya tapi ia tidak keluar dari zona nyamannya. Penjahatnya masih tetap generik (ingin menguasai dunia). Musiknya tetap menggiring Anda untuk merasakan sesuatu. Visualnya terlalu aman untuk disebut outstanding dan mempunyai kepribadian yang khusus.

Banyak orang yang mengatakan bahwa 18 film Marvel yang dirilis sebelumnya mirip satu sama lain. Anda pun sebagai penonton sepertinya menyadari ini. Sepelik apapun masalah yang dihadapi, sejahat apapun penjahat yang mereka hadapi, sekuat apapun karakter antagonis yang mengganggu mereka, para superhero ini akan selalu menang. Tapi kita sebagai penonton tetap menonton Marvel bukan karena itu. Kita menonton karena kita sudah terlanjur terikat dengan karakternya.

Kita menonton film-film Marvel karena Marvel menjadikan perilisan film mereka sebagai momentum untuk menyaksikan sebuah blockbuster di bioskop. Kita menonton film-filmnya untuk dibuat terkejut. Seperti ketika melihat bahwa ‘Captain America: Winter Soldier’ adalah sebuah thriller politik, betapa serunya nge-geng dengan underdogs dalam ‘The Guardians of the Galaxy’, betapa kocaknya Thor ketika dia keluar dari Asgard bersama Hulk dalam ‘Thor: Ragnarok’ atau betapa dalam social-commentary ‘Black Panther’.

Dengan catatan itu, sudah bisa diprediksi bahwa ‘Infinity War’ terpaksa harus mengorbankan para superhero yang tadinya kita puja-puja itu. Yang tadinya mendapatkan spotlight solo di panggung terpaksa harus bergabung dengan superhero yang lain. Inilah yang menyebabkan banyak karakter superhero yang tampil sekelebat hanya untuk berantem atau hanya diberikan beberapa line dialog. Dan beberapa line dialog itu kadang hanya untuk dibuat menyapa orang lain atau digunakan untuk kepentingan humor khas Marvel.

Kunjungi Junga : TunaDomino Situs Judi Banyak Untung

Anthony Russo dan Joe Russo membuat ‘Infinity War’ khusus untuk menggambarkan betapa jahatnya Thanos dan betapa gila kekuatan yang ia miliki. Dalam menggambarkan itu, mereka jauh lebih berhasil dari film sebelum-sebelumnya. Dan dengan banyaknya adegan-adegan brutal itu, Russo bersaudara tidak ada waktu untuk mengeksplor emosi satu per satu karakternya.

Di antara semua karakter, mungkin hanya Gamora (Zoe Saldana) yang mendapatkan perhatian. Mungkin karena dia juga satu-satunya karakter (selain Nebula yang diperankan oleh Karen Gillan) yang mempunyai hubungan personal dengan Thanos bila merujuk dari cerita di komik.

Bandingkan dengan ‘Harry Potter and the Deathly Hallows Part 1’ di mana kita bisa melihat betapa dunia tidak ramah kepada trio penyihir kesayangan kita dan pertaruhan yang harus mereka hadapi jika mereka kalah menghadapi Voldemort. Emosinya jauh lebih kuat karena David Yates sebagai sutradara hanya fokus kepada tiga karakter.

Setiap film mempunyai kekuatan dan kelemahan. ‘Infinity War’ tidak imun terhadap hal itu. Tapi film ini paling tidak menjadi salah satu catatan sejarah tentang bagaimana penantian selama sepuluh tahun dan delapan belas film berakhir dengan ledakan yang cukup berarti. Meskipun sebagai penonton saya merasa dibohongi karena seolah-olah saya sedang menonton paruh pertama sebuah konser klasik.

Dengan ending yang pastinya akan memicu banyak perdebatan dan diskusi, ‘Infinity War’ akan membuat para penonton menunggu-nunggu kelanjutannya tahun depan. Dan untuk itu, saya berharap bahwa agar paruh kedua konser ini lebih memberikan kejutan daripada sekedar memutar ulang lagu-lagu klasik kesukaan penonton. Harapannya agar kita semua bisa berteriak meminta encore ketika semua keriuhan itu usai.

Candra Aditya adalah seorang penulis dan pengamat film lulusan Binus International.

Berikan Komentarmu