Viral Penumpang Taksi Dihadang di Bandara Semarang

0
102
Taksi
Taksi

Pihak TNI AD menanggapi soal cerita penumpang taksi yang dihadang di Bandara Achmad Yani, Semarang, yang sempat viral. TNI AD yang menjadi pemilik lahan bandara menyatakan penataan dan pengelolaan yang dilakukan semata-mata untuk pelayanan publik.

“Terkait tuntutan tersebut maka berbagai fasilitas udara pun ditata agar dapat memberikan pelayanan yang memuaskan. Tidak hanya aspek fisik yang menjadi obyek penataan namun juga berbagai aspek nonfisik lainnya,” kata Kapendam IV/Diponegoro, Letkol Zaenudin, lewat keterangan tertulisnya, Sabtu (21/7/2018).

Baca Juga : Indojudi69 Agentsi Situs judi online terpercaya

Dia mengatakan pengelolaan jasa pelayanan di Bandara Achmad Yanimerujuk pada Permenhub nomor 56 tahun 2015. Sehingga jasa pelayanan harus melalui perjanjian kerja sama yang menguntungkan antara pengelola bandara dan perusahaan jasa terkait.

“Ini perlu digarisbawahi karena akan menjadi pembatasan hak pilih seseorang di bandara untuk menentukan sarana transportasi selama berada di areal itu tidaklah sebebas seperti mencari kendaraan di ruang publik lainnya,” ujarnya.

Zaenudin kemudian mengungkap sosok yang disebut preman oleh pemilik akun Facebook Nathalie. Dia mengatakan pria tersebut merupakan purnawiratan TNI AD berpangkat terakhir Pembantu Letnan Satu (Peltu). Pria tersebut kini menghidupi keluarganya sebagai Pengojek Kendaraan Sepeda Motor di Area Bandara.

Zaenudin juga meluruskan soal pihak yang menurunkan koper Nathalie. Menurutnya, yang menurunkan koper ialah sopir Blue Bird yang sadar taksinya tak terikat kerja sama dengan pihak bandara.

“Jika kita telaah kembali, sesungguhnya pihak bandara tidak melarang calon penumpang menggunakan taksi di luar yang disediakan Bandara, namun hanya membatasi taksi yang akan mengantar penumpang keluar dari bandara,” ujar dia.

Zaenudin kembali mengingatkan soal pelayanan di Bandara Achmad Yani dilakukan karena pada dasarnya bandara tersebut merupakan Pangkalan Udara Utama Militer TNI AD (Lanumad). TNI AD membuat bandara tersebut bisa digunakan publik untuk mendukung program pemerintah.

“Mungkin sedikit dari militer dunia yang mengizinkan bandaranya digunakan bersamaan dengan maskapai penerbangan sipil,” ujar dia.

Sebelumnya diberitakan, Nathalie mengalami hal ini pada Minggu (15/7) sekitar pukul 12.30 WIB. Saat itu Nathalie baru pulang dari Surabaya dan mencari taksi untuk pulang. Ketika itu ia melihat taksi Blue Bird kosong dan lebih dekat daripada taksi bandara yang harus sedikit menyeberang.

Setelah taksi yang ditumpangi jalan sekitar 10-20 meter, ternyata ada seorang pria menghadang dan meminta Nathalie turun. Sopir Blue Bird pun diminta menurunkan barang-barang Nathalie.

Singkatnya Nathalie ingin memilih transportasi sesuai yang dia mau. Dia lalu melapor ke Customer Service. Pihak bandara memberi 2 pilihan yakni menggunakan taksi bandara atau diantar keluar bandara pakai mobil Angkasa Pura untuk mencari taksi lain. Nathalie juga diminta menulis keluhan di complain ticket, namun Nathalie menolak.

Dia merasa seharusnya punya hak memilih. Hingga akhirnya dia tetap menggunakan taksi Blue Birds. Selain itu, yang lebih dia tekankan adalah aksi penghadangan yang menghentikan dan menyuruh penumpang turun.

Berikan Komentarmu